Duhai muslimah.....
coretan nasihat buat kita semua dengan penuh kasih sayang
Berat untuk diluahkan.
Tetapi, kenyataan memang memedihkan.
Kata ustaz,
Jika benarlah nak ikut tepat-tepat cara Islam.
Betul-betul nak ikut garis panduan.
Betul-betul nak patuh syariah.
Tidak akan adalah gambar-gambar perempuan letak gambarnya sendiri untuk tontonan di laman sosial.
Mungkin dia baik.
Mungkin dia muslimah.
Mungkin dia tiada perangai.
Tetapi dalam masa yang sama.
Maaf.
Dia juga menjadi agen-agen syaitan.
Membantu merosakkan hati yang memerhati.
Lelaki yang mempunyai penyakit dalam hati.
Yang menonton gambar-gambarnya.
Yang bertukar-tukar gaya setiap ketika.
"Adakah rela wanita yang punya harga diri menjadi objek bagi lelaki lain yang bukan suaminya, menunaikan nafsu mereka dan berlazat-lazat dengan dirinya dalam apa jua cara? Maka, seorang muslimah yang bermaruah hendaklah berhati-hati."
Kita sudah pun di akhir zaman.
Ustazah pun tidak dapat lagi dijadikan panduan cara berpakaian.
Selebriti artis model hijab pun entah lulus syariah atau tidak gambar dan posternya.
Saya faham, saya faham.
Pasti ramai tak boleh terima,
"Itu tak boleh, ini tak boleh!"
“Apa ni Islam macam ni!”
“Keras gila kot agama Islam!”
“Perempuan je kena, lelaki?!”
Ada hikmah bila teguran itu datang dari agama sendiri.
Tak percaya?
Cubalah seminggu.
Privatekan semua gambar.
Rekod;
- Ada orang ganggu tak?
- Ada lelaki mengurat tak?
- Ada pujian2 liar tak?
- Hati lebih tenang atau tak?
Atau..
Kita sebenarnya tidak boleh hidup tanpa pujian?
Kita sendiri yang inginkan perhatian?
Letak atau tidak,
Semua atas tinggi rendah taqwa.
Taqwa kita di level berapa.
Itulah yang menentukan prinsip dan maruah diri kita...
Sama-samalah kita saling ingat mengingati..
Nasihat ini juga untuk diriku yang masih alpa...
كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته Maksudnya: “Setiap kamu adalah penjaga (pemimpin) dan setiap kamu ditanya berkaitan dengan tanggungjawabnya”. (Hadis Riwayat Al-Bukhari)
http://headers.blogdesignsbydani.com/JustSoScrappy/Spring Stitches Header.jpg
Wednesday, 26 March 2014
Monday, 24 March 2014
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ
INGATLAH, WAKTU NYA SUDAH DEKAT
Takziah diucapkan kepada Waris2 Mangsa Nahas MH370. Semoga Allah tempatkan mangsa dikalangan orang2 yang beriman..Sejahtera di alam sana..MATAH Prihatin & Bersimpati , Sama2 hayati Firman Allah SWT:-
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
maksudnya: Dan sungguh akan Kami berikan cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa mushibah, mereka mengucapkan:` Innaalillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ',(sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). [Surah Al-Baqarah:155-156]
-AL-FATIHAH-
Berlandaskan firman dibawah ini, mari kita renungkan maksud dan tujuan hidup ini, melalui sebuah sarana, yang barangkali dapat mengimbangi gerak langkah hidup kita di dalam mengarungi hiruk-pikuknya bahtera dunia ini.
mudah-mudahan dapat sedikit memotifasi diri kita semua di dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt, yaitu melalui sarana “MENGINGAT MATI”.
Firman Allah SWT:
“Ingatkanlah olehmu, sesungguhnya peringatan itu sangat bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (Adzdzaariyaat: 55)
|
Hidup hanyalah tempat persinggahan sementara. Adapun kematian, sesungguhnya merupakan awal kehidupan manusia yang kekal dan abadi. Nabi Saw bersabda:
“Aku dan dunia bagaikan seseorang yang tengah mengadakan perjalanan di suatu hari yang panas, lalu berteduh sejenak di bawah rindangnya sebuah pohon, lantas pergi meninggalkan pohon itu untuk melanjutkan kembali perjalanan panjang”. (HR. Ibnu Mâjah dan Ahmad).
Allahpun berfirman:
“Kehidupan di dunia ini bagaikan permainan dan senda gurau belaka. Sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak berpikir?” (QS.6 Al-Anâm: 32)
Begitu jelas makna hadis dan ayat tadi. Logikanya, kalau kehidupan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan hanya persinggahan sementara untuk sebuah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, maka bekal apakah yang seharusnya kita siapkan untuk sebuah perjalanan yamg maha panjang tersebut?
Di antara hal yang dapat memotivasi diri kita untuk mempersiapkan bekal tersebut dengan sebaik-baiknya adalah memperbanyak mengingat mati. Nabi Saw bersabda:
“Perbanyakkanlah mengingati mati, niscaya kalian akan dapat menyepelekan kelezatan dunia”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kalaulah kita bersedia untuk selalu mengejar harta, pangkat dan jabatan yang hanya sementara, bahkan belum tentu semua itu dapat kita rasakan, mengapa kita tidak bersedia untuk mempersiapkan diri kita kepada hal yang sudah pasti akan kita rasakan.
Bukankah kenyataan hidup selama ini mengatakan, bahwa umur manusia ada akhirnya ?
Bukankah Allah Swt sudah jelas-jelas berfirman:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” (Ali Imran: 185)
Tidak ada yang bisa menahan dan menghalanginya.
“Jika telah datang ajalnya, maka tidak dapat diakhirkan atau dimajukan, walaupun hanya sesaat” (An-Nahl: 61)
|
Suatu hari nabiyullah Yakub As berjumpa dengan malaikat pencabut nyawa, Izrail As. Beliau menginginkan di saat ajalnya sudah mendekat, agar diberitahu terlebih dahulu sebelumnya, sehingga menjadi lebih siap di dalam menghadapi sakaratul maut yang akan dia hadapi.
Oleh karenanya, Nabiyullah Ya’kub meminta malaikat pencabut nyawa, untuk mengirimkan utusannya terlebih dahulu sebelum dicabut nyawanya.
Suatu ketika, di saat malaikat maut datang menjemput Nabi Yakub As untuk mencabut nyawanya, beliau bertanya,
“Bukankah dulu pernah aku bilang kepadamu untuk dikirimkan utusan terlebih dahulu sebelum engkau mencabut nyawaku?“
Malaikat maut menjawab,
“Demi Allah, telah banyak utusanku datang memberi peringatan kepadamu wahai nabiyallah”
Dengan agak heran nabi Yakub berkata,
“Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mengenalnya?“
Malaikat maut pun menjawab,
“Bukankah telah datang utusanku berupa sakit, uban, pendengaran berkurang dan penglihatan yang mulai kabur?“
|
Abu Dzar meriwayatkan, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,
“Berziarah kuburlah kalian, karena dia dapat mengingatkan kamu kepada akhirat. Mandikanlah orang mati karena mengurus orang mati dapat menjadi peringatan yang cukup mendalam bagimu. Shalatkanlah jenazah karena ia dapat menyedihkan hati kamu“
Sedangkan orang yang bersedih karena Allah Swt, berarti dia bersedia untuk melaksanakan amal kebajikan.
|
Sakitnya Sakaratul Maut
Mengenai sakitnya sakaratul maut, ada sebuah kisah yang diriwayat kan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas Ra:
Suatu ketika, pernah Nabi Ibrahim As berdialog dengan Malaikat Maut tentang sakaratulmaut. Khalilullah ini bertanya,
“Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu kepadaku saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”
Malaikat menjawab pendek: “Engkau tidak akan sanggup.”
“Aku pasti sanggup,” tegas nabi Ibrahim.
“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat. Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berduri, berbau teramat busuk, dan berpakaian serba hitam.
Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan!
Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut,
“Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu hanya diperlihatkan keburukan rupamu saja di saat kematiannya, niscaya itu sudahlah cukup sebagai hukuman atasnya.”
Dari beberapa riwayat, selain nabi Ibrahim As, nabi Idris, dan Daud , Nabi Isa as juga pernah dihadapkan pada fenomena penampakan Malaikat Maut.
Kesimpulan dari semua itu, bahwa sakaratulmaut belum seberapa bila dibandingkan dengan sakaratulmaut itu sendiri.
Sakaratul maut adalah sebuah ungkapan untuk menggambarkan rasa sakit yang menyerang inti jiwa manusia dan menjalar ke seluruh bagian tubuh, sehingga tak satu pun bagian badan yang terbebas dari rasa sakit itu.
Malapetaka paling dahsyat di kehidupan paripurna manusia ini, memberi rasa sakit yang berbeda-beda pada setiap orang, tergantung amal dan ibadahnya.
Untuk menggambarkan rasa itu, pernah Rasulullah S.A.W berkata:
“Kematian yang paling mudah adalah serupa dengan sebatang duri yang menancap di selembar kain sutera. Lantas Nabi bertanya, apakah duri itu dapat terambil begitu saja tanpa membawa bagian sutera yang koyak?”
Pada kesempatan lain Nabi Saw bersabda:
“Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang.”
|
Diriwayatkan, ketika ruh Nabi Ibrahim as akan dicabut, Allah SWT bertanya kepada Ibrahim:
“Bagaimana engkau merasakan kematian wahai khalilullah (khalilullah berarti sahabat Allah)?“
Beliau menjawab, “Seperti sebuah pengait yang dimasukkan ke dalam gumpalan bulu basah yang kemudian ditarik.”
“Yang seperti itulah, sudah Kami ringankan atas dirimu,” kata Allah Swt.
Rasulullah S.A.W sendiri menjelang akhir hayatnya berucap:
“Ya Allah ringankanlah aku dari sakitnya sakaratul maut”berulang hingga tiga kali.
Padahal telah ada jaminan dari Allah SWT bahwa beliau akan masuk surga. Mari kita bandingkan tingkat keimanan dan keshalehan beliau dengan diri kita, yang hanya manusia biasa ini.
|
Proses Sakaratul Maut
Bagaimanakah sebenarnya proses sakaratul maut itu telah berlaku pada manusia?
Dalam hal ini baginda Rasullullah Saw telah memberitahukan kita:
- Apabila telah sampai ajal seseorang, maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil di dalam badannya,
- lalu mereka menarik rohnya melalui kedua telapak kakinya hingga sampai kelutut.
- Setelah itu datang sekumpulan malaikat yang lain, masuk untuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut, kemudian mereka pun keluar.
- Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada, setelah itu mereka pun keluar.
- Dan akhir sekali, datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong, itulah yang dinamakan dengan saat nazak orang tersebut.
Rasullullah S.A.W. melanjutkan:
“Jika orang yang nazak itu orang beriman, maka malaikat Jibril A.S. akan menebarkan sayapnya yang kanannya sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga.Di saat orang yang beriman itu melihat syurga, dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya, akibat kerinduannya yang teramat sangat kepada syurga, dia melihat terus apa yang dilihatnya pada sayap Jibril As.“Adapun, jika orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail As. akan menebarkan sayap kirinya.Maka orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya, akibat terlalu takutnya dia melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya kelak.
Ketika ruh manusia telah keluar dari jasadnya, berarti dia telah memasuki alam baru, bukan alam dunia lagi melainkan alam Barzah, alam pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, menunggu hari perhitungan. Rasulullah Saw bersabda:
“Kuburan adalah awal kehidupan akhirat. Jika seseorang selamat daripadanya, maka kehidupan setelahnya menjadi lebih mudah. Namun, jika ia tidak selamat daripadanya, maka kehidupan setelahnya lebih mengerikan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah suatu hari menasehati para sahabatnya, beliau berkata:
Jika kalian melewati kuburan, lihatlah… betapa sempitnya rumah-rumah mereka sekarang.
- Tanyakan kepada orang-orang kaya mereka, masih tersisakah harta mereka?
- Tanyakan pula kepada orang-orang miskin di antara mereka, masih tersisakah kemiskinan mereka?
- Tanyakan tentang lisan yang dengannya mereka berbicara, sepasang mata yang dengannya mereka melihat indahnya pemandangan?.
- Tanyakan pula tentang kulit-kulit nan lembut dan wajah-wajah cantik jelita, tubuh-tubuh yang halus-mulus, apa yang diperbuat oleh ulat-ulat di balik kain kafan mereka?
- Lisan-lisan itu telah hancur, wajah-wajah cantik jelita itu telah dimakan ulat, anggota badan mereka telah terpisah-pisah berserakan.
- Lalu di mana pelayan-pelayan mereka yang setia?
- Di mana tumpukan harta dan sederetan pangkat mereka?
- Di mana rumah-rumah gedong mereka yang banyak dan menjulang tinggi?
- Di mana kebun-kebun mereka yang rindang dan subur?
- Di mana pakaian-pakaian mereka yang indah dan mahal?
- Di mana kendaraan-kendaraan mewah kesukaan mereka?
- Bukankah mereka kini berada di tempat yang sangat sunyi?
- Bukankah siang dan malam bagi mereka sama saja?
- Bukankah mereka berada dalam kegelapan?
- Mereka telah terputus dengan amal mereka.
Mereka telah berpisah dengan orang-orang yang sangat mereka cintai, dengan harta yang mereka puja-puja, dengan gaya hidup yang mereka banggakan.
Orang-orang yang mereka cintai tidak mau ikut bersamanya, harta yang mereka tinggalkan malah akan menjadi beban jika digunakan bukan di jalan yang Allah ridhai.
Ketika itu, yang masih bermanfaat hanyalah tiga:
- shadaqah jariah,
- ilmu yang bermanfaat, dan
- anaknya yang shaleh yang mendo’akan dirinya.”
|
Demikianlah nasehat dari Umar bin Abdul Aziz. Muhammad bin Shabih berkata,
“Telah sampai berita kepada kami, bahwa manakala seseorang telah diletakkan di kuburannya, lalu disiksa atau mendapatkan sesuatu yang dibenci, tetangga kuburnya dari orang-orang yang telah meninggal sebelumnya berkata kepadanya,“
- Wahai pendatang baru, tidakkah engkau mengambil pelajaran dari kami?
- Tidakkah engkau merenungkan kematian kami yang mendahuluimu?
- Bukankah engkau mengetahui bahwa amal kami telah terputus, sementara engkau masih diberi waktu?
- Mengapa tidak engkau kejar apa yang tidak diperoleh oleh saudara-saudaramu ini?
Relevan dengan firman Allah Swt:
“Hingga datanglah kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ya tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shaleh dari apa yang telah aku tinggalkan (dahulu).Sekali-kali tidak. Itu hanyalah omongan belaka (yang tidak bermanfaat) dan di hadapan mereka ada dinding pembatas sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al-Mu’minun: 99-100)
|
Sebab-sebab Siksa Kubur
Disebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziah rahimahullah ta’ala, bahwa siksa kubur itu ditimpakan karena berbagai macam dosa dan maksiat, di antaranya adalah:
- 1. Adu domba dan menggunjing.
- 2. Tidak bersuci (cebok) setelah buang air kecil.
- 3. Shalat dalam keadaan tidak suci (kotor).
- 4. Berdusta.
- 5. Lalai dan malas dalam mengerjakan shalat.
- 6. Tidak mengeluarkan zakat.
- 7. Berzina.
- 8. Mencuri.
- 9. Berkhianat.
- 10. Menfitnah sesama umat Islam.
- 11. Makan riba.
- 12. Tidak menolong orang yang dizhalimi.
- 13. Minum khamar (kalau jaman sekarang seperti: minum sempain, ngeplay, ngegele, sabu-sabu, ekstasy dan sejenisnya).
- 14. Memanjangkan kain hingga di bawah mata kaki (menyombongkan diri).
- 15. Membunuh.
- 16. Mencaci sahabat Nabi.
- 17. Mati dalam keadaan membawa bid’ah.
|
Yang Menyebabkan Selamat dari Siksa Kubur
Adapun kiat agar kita tidak terkena siksa kubur,
- Imam Ibnu Qayyim memberitahukan sebagai berikut: sebab-sebab kita di seselamatkan dari siksa kubur adalah dengan menjauhkan berbagai macam maksiat dan dosa.
- Untuk itu, Ibnu Qayyim menganjurkan, hendaknya setiap muslim melakukan perhitungan atas dirinya setiap hari, tentang apa saja dosa dan kebaikan yang telah dilakukannya pada hari itu.
- Setelah itu, ia memperbaharui taubatnya kepada Allah setiap hari, terlebih di saat ia hendak tidur malam.
- Jika ia meninggal dunia pada malam itu, maka ia meninggal dalam keadaan telah bertaubat.
- Jika ia bangun dari tidurnya, ia bersyukur karena ajalnya masih ditangguhkan.
Dengan demikian, ia masih diberi kesempatan beribadah kepada Rabbnya dan mengejar amal yang belum dilakukannya. Imam Ibnu Qayyim menambahkan,
“sebelum tidur, hendaknya pula dia berada dalam keadaan berwudhu, senantiasa mengingat Allah dan mengucapkan dzikir-dzikir yang disunnahkan Nabi saw sampai ia tidur atau tertidur.
Jika seseorang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya dia akan diberi kekuatan untuk melakukannya. Kemudian Ibnu Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa ketaatan yang bisa menyelamatkan kita dari siksa kubur, di antaranya adalah:
- 1. Rajin beribadah dan taat kepada Allah Swt dengan ikhlas.
- 2. Mati syahid di jalan-Nya.
- 3. Membaca surat Al-Mulk.
- 4. Meninggal karena sakit, dan terakhir:
- 5. Meninggal dunia pada hari Jum’at.
Mati Tidak Perlu Ditakuti Melainkan Sebagai Motifasi Hidup Betapa pun sakitnya sakaratul maut.
Kematian, semestinya tidak menjadi sesuatu yang perlu ditakuti, tapi sebaliknya harus senantiasa dirindukan.
Jika sesuatu itu begitu dirindukan, logikanya, berarti ingin segera bertemu. Kalau ingin bertemu berarti dia sudah menyiapkan dirinya dengan bekal amal ibadah di dunia ini.
“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya,”
demikian sabda Rasulullah Saw.
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Allah swt, maka dia harus berbuat baik”. (Al Kahfi: 110).
|
Husnul Khotimah, adalah sebuah karunia Allah SWT yang khusus diberikan kepada manusia istimewa. Tidak ada ceritanya dalam hidup ini istilah
“Muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga”
Husnul khotimah itu seperti hadiah untuk manusia, atas upaya manusia yang sungguh-sungguh di dalam menjalankan tugas hidup di dunia ini.
“Seperti mahasiswa yang belajar mati-matian, lalu lulus dengan predikat summa cum laude.”
Jadi kita jangan pernah berpikir bagaimana supaya kita bisa mendapatkan Husnulkhotimah terlebih dulu, tanpa amal nyata.
“Kata-kata mati, harusnya mampu kita hadirkan dalam hati kita setiap hari,”
Sabda Rasulullah yang menyatakan,
bahwa dengan sering-sering mengingat mati menjadikan seseorang menjadi makhluk yang produktif, cermat, dan selektif, adalah benar adanya.
Ini karena setiap pekerjaan yang dilakukannya dianggap sebagai pekerjaan terakhirnya. Karena maut bisa datang kapan dan di mana saja.
Kalaulah kita selalu mengejar harta, pangkat dan jabatan yang hanya sementara, bahkan apa yang telah kita raih dari harta, pangkat dan jabatan tersebut, hanyalah segelintir saja yang mampu kita rasakan dan nikmati, sebatas yang bisa masuk ke dalam perut dan kebutuhan pribadi kita.
Lalu :
- Mengapa kita tidak bersedia untuk mempersiapkan diri kita kepada hal yang pasti akan kita rasakan.
- Mengapa kita tidak bersedia menjadikan harta, pangkat dan jabatan yang telah kita raih, untuk bekal di akhirat kelak?
- Mengapa kita tidak bersedia menjadikannya sebagai sarana untuk memperoleh ridha Allah Swt?
- Sedangkan perjalanan akhirat sangatlah panjang dan kekal abadi, sebelum datang penyesalan, karena penyesalan tidak akan mungkin datang lebih dahulu.
Allah Swt berfirman:
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Lari dari Ibu Bapaknya. Lari dari isteri dan anaknya. Pada hari itu, setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing“
|
Semoga Allah Swt berkenan untuk menjadikan kita termasuk kepada orang-orang yang tidak kikir di dalam menafkahkan harta, pangkat dan jabatan di jalan Allah Swt.
Karena amal ibadah semacam ini pada hakikatnya adalah
untuk kebahagiaan diri kita sendiri.
untuk kebahagiaan diri kita sendiri.
|
By: •• Syahirasyieera••
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
SEMOGA BERMANFA’AT – ALHAMDULILLAH
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Sunday, 23 March 2014
Teruskan berhijrah...jangan putus asa..!
sebesar apapun kesalahan kita di masa lalu, kita masih tetap boleh melangkah ke depan.. kita mungkin tak dapat mengubah masa lalu tapi kita dapat mengubah masa depan dengan belajar dari masa lalu.. sebaik atau seburuk apapun masa lalu kita, semua itu tetap sudah berlalu.. terkadang sulit bagi seseorang memaafkan kita kerana apa yang telah kita lakukan di masa lalu.. tak perlu buang masa dgn orang yang memandang kita seperti melihat masa lalu kita.. LUPAKAN mereka dan terus melangkah untuk jadi yang lebih baik di masa akan datang.. percayalah ALLAH SWT sentiasa di sisi kita.. walau apapun yang terjadi.. tabahkan hati, kuatkan iman.. — feeling good.
Friday, 21 March 2014
Layakah aku menjadi bidadari syurga
Aku tidak sesempurna bidadari
Ainul
Mardhiah mengerling jam berwarna merah jambu di tangannya. Entah berapa kali
dia mundar mandir di situ. Penantiannya seolah olah tidak berkesudahan. Namun,
atas rasa rindu dan harapan yang tidak pernah putus, dia menanti di situ.
"Bukankah
dia sudah berjanji untuk kembali ke rumah pada hari ini? Tetapi mengapa dia
yang dinanti masih tidak muncul?"
Ainul
Mardhiah mengerling ke luar tingkap. Kegelapan malam mula memenuhi ruang.
Hatinya mula disimbahi rasa pilu. Adakah penantiannya pada tika itu juga masih
sia sia?? Ya ALLAH, hanya padaMU hambaMu ini berserah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Aku
terima nikahnya, Ainul Mardhiah binti Osman, dengan mas kahwinnya RM45
tunai"
Alhamdulillah,
lafaz sakinah antara Ainul Mardiah dan Farhan terjalin atas dasar membina
baitul muslim dakwah. Sesungguhnya mereka berdua berjanji bahawa penyatuan
cinta mereka hanyalah kerana ALLAH dan segalanya juga kembali kepada ALLAH.
"Ainul
Mardhiah, adakah enti sudi menjadi Ainul Mardhiah abang juga di syurga
nanti?"
"Setelah
lafaz sakinah yang ALLAH izinkan untuk kita berdua, maka dengan rela hati diri
ana yang kerdil ini sedia menjadi bidadari mu untuk dunia dan akhirat"
"Adakah
Ainul Mardhiah sudi menantiku di syurga?"
"Sudah
tentu sekali wahai suamiku yang ku cintai, bukankah asal kisahnya bidadari yang
bernama Ainul Mardhiah itu menanti mahar syahidnya suaminya untuk bersatu di
syurga nanti"
"Jika
begitu, Ainul Mardhiah harus bersabar ke atasku"
"Bersabar?"
"Ainul
Mardhiah harus bersabar menantiku, kita akan disatukan di syurga, itulah tempat
penyatuan kita"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ainul
Mardhiah menghantar pesanan ringkas kepada suaminya Farhan. Rasanya sudah beberapa
hari dia dan Farhan tidak bertemu. Farhan terlalu sibuk dengan urusan dakwah
dan tarbiyahnya. Perasaan rindu menyelubungi hati dan sanubari Ainul Mardhiah.
1
pesanan baru
Asif, bidadari ku yang bernama Ainul Mardhiah,
rasanya kanda tidak akan pulang ke rumah untuk beberapa hari lagi, kanda masih
ada urusan yang perlu diselesaikan. Umat ini terlalu merindukan pembaikan.
Semoga berjumpa di syurgaNYA.
Menitis
air mata Ainul Mardhiah membaca pesanan tersebut. Mengapa dia tidak pernah ada
masa untukku? Adakah aku tidak begitu penting dalam hidupnya? Di tahap manakah
kedudukan ku dalam dirinya?
Sepanjang
usia perkahwinan mereka yang mencecah satu tahun itu, hanya beberapa kali
sahaja Farhan menjengah ke rumah. Fokus Farhan hanya pada perjuangan. Namun
Ainul Mardhiah seringkali juga dilanda perasaan resah, gelisah, cemburu dan
buruk sangka. Sehebat manapun dia ditarbiyah, dia juga manusia biasa bernama
seorang perempuan. Dia tidak sesempurna bidadari. Biarpun beberapa kali dia
cuba untuk bersabar, tetapi masih terdapat rasa terkilan dalam dirinya.
Aku
tahu diriku bukan pilihan pertama dalam hidupnya tetapi kenapa begitu sukar ku
tepis rasa terkilan ini. Aku bukanlah sesempurna bidadari yang bernama Ainul
Mardhiah yang tabah menunggu syahidnya seorang pemuda sebagai maharnya di pintu
syurga. Semoga ALLAH memberi kekuatan buat diri yang lemah ini.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Selama
dua tahun melayari bahtera rumah tangga, Ainul Mardhiah dan Farhan dikurniakan
sseorang mujahid kecil yang juga dinamakan Mujahid. Harapan Ainul Mardhiah dan
Farhan, agar Mujahid mewarisi perjuangan ibu dan ayah.
Sehinggalah
suatu ketika, Mujahid yang berusia 6 bulan jatuh sakit;
Ainul
Mardhiah menghubungi Farhan yang sedang sibuk melaksanakan tugas pembaikan
ummah
"Assalamualaikum
abang, boleh abang balik segera, Mujahid jatuh sakit dan dimasukkan ke
hospital"
"Jika
begitu, Ainul Mardhiah temankan dia dahulu, insyaALLAH esok abang akan
pulang"
"Tetapi
keadaan Mujahid sangat kritikal, Ainul tidak bisa mendepani peristiwa ini
seorang diri"
"Ainul,
bidadariku, bersabarlah, abang masih ada tugas yang lebih penting di sini"
"Abang
selama ini memang tidak pernah pentingkan Ainul dan Mujahid, Ainul tidak tahu
di mana kedudukan Ainul dalam hidup abang"
"Ainul
bersabarlah, ini ujian buat kita"
"Ainul
sudah tidak betah untuk menanti abang dalam waktu begini"
"Bukankah
Ainul Mardhiah sudah berjanji sentiasa menjadi Ainul Mardhiah buat abang, dan
menanti abang di pintu syurga?, masih ingatkah janji kita itu wahai
bidadariku?"
"Ainul
tidak sesempurna bidadari abang, Ainul juga punya perasaan sebagai seorang
wanita. Ainul punya rasa untuk dikasihi, Ainul punya rasa untuk cemburu"
"Cinta
abang kepada Ainul tidak pernah berubah, semuanya kerana ALLAH dan perjuangan,
jika Ainul juga mencintai abang kerana ALLAH dan perjuangan, maka tunggulah
abang sebagai Ainul Mardhiah di pintu syurga"
Telefon
dimatikan. Ainul Mardhiah menangis semahunya. Dia merasakan dirinya tidak layak
mendampingi insan bernama Farhan. Dia terlalu lemah. Dia tidak sehebat Siti
Khadijah yang berkorban jiwa dan harta untuk menyokong perjuangan Rasulullah
SAW, dia juga tidak punya iman sekental Asiah yang rela berkorban untuk agama
dan yang paling utama dia tidak layaknya digelar Ainul Mardhiah kerana tidak
sabar dalam penantian. Dia tidak sesempurna bidadari.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dia
menanti lagi. Farhan berjanji untuk pulang hari ini. Dia ingin melayan Farhan
dengan sebaiknya. Dia mungkin tidak sesempurna Ainul Mardhiah bidadari di
syurga, tetapi dia mengakui kesilapannya dan ingin membetulkan segala
kesalahannya terhadap Farhan.
Namun
dia diburu kehairanan, sehingga waktu begini Farhan belum juga pulang. Adakah
Farhan sudah melupakan segala janjinya? Dia tidak akan penat menunggu, dia akan
sentiasa menanti Farhan.
Cumanya,
dia berasa tempat itu seolah asing baginya, mata mata ganjil memandangnya.
Mungkin itu igauan buatnya. Yang penting, dia setia menanti Farhan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Liza,
seorang pelajar jurusan psikologi baru sahaja ditugaskan untuk membuat kajian
di tempat itu. Bagi dirinya, tempat itu kelihatan biasa sahaja cuma penghuninya
sedikit istimewa. Namun, dalam semua penghuni di situ, terdapat seorang yang
amat menarik perhatiannya. Penghuni berwajah jelita, malah menutup aurat dan
menjaga solat lima waktu. Namun, dia tidak memperdulikan persekitarannya dan
hanya hidup dalam dunianya sendiri.
Liza
terdetik untuk bertanya kepada jururawat di situ
"Kak,
boleh saya tahu lebih lanjut berkenaaan penghuni wanita yang sering
bersendirian di situ" sambil jarinya menuding ke arah buaian yang
berhampiran pagar.
"Apa
yang adik ingin tahu tentang dia?"
"Saya
rasa dia sangat istimewa, dia seolah olah waras kerana masih mengamalkan ajaran
ISLAM tetapi dia hidup dalam dunianya sendiri"
"Dia
memang istimewa adik. Dialah bernama Ainul Mardhiah, sudah hampir empat tahun
dia menghuni Hospital Sakit Jiwa ini tetapi selama kakak menjaga dia, dia tak
banyak karenah malah sangat memenuhi tuntutan agama malahan melebihi akak
sendiri"
"Saya
kurang faham kak, bukankah semua penghuni di sini mengalami masalah mental,
mengapa dia masih boleh mengamalkan ajaran agama?"
"Percayalah
pada kuasa ALLAH dik, ALLAH penentu segalanya. Jangan diingat mereka yang gila
itu hina sedangkan mereka adalah ahli syurga dan sangat istimewa di sisi ALLAH.
Kisah Ainul Mardhiah sangat istimewa. Dia seorang wanita solehah yang sangat
menjaga peribadinya, ditakdirkan pula dia bernikah dengan seorang pemuda soleh
yang juga seorang yang sangat mencintai agama. Malah mereka dikurniakan seorang
mujahid kecil. Namun, takdir ALLAH mengatasi segalanya, Ainul Mardhiah diuji
begitu hebat tatkala dia menghadapi dua kehilangan sekali gus. Mujahid kecilnya
meninggal dunia kerana menghidap penyakit kronik dan suaminya pula terlibat
dalam kemalangan ketika hendak menyertai program dakwah di sebuah kampung yang
terpencil. Sejak itu, Ainul Mardhiah seolah olah tidak mengenali orang lain.
Apabila ditanya, dia hanya mengatakan bahawa dirinya tidak sesempurna bidadari.
Malah saban waktu, dia seolah olah menanti seseorang di buaian itu. Tetapi yang
paling mengkagumkan, dalam keadaan dia begitu, hilang kewarasan, tetapi dia
masih mampu menjaga aurat dan solatnya. Begitulah ALLAH menjaga bidadariNYA.
Malah, sudah banyak kali insan insan lain yang melihat keadaan Ainul Mardhiah,
berubah kerana tersentuh dengan kebesaran ALLAH.
"SubhanALLAH,
tersentuh saya kak, dia masih boleh menyampaikan dakwah biarpun dalam keadaan
yang tidak waras"
"Kakak
yakin, Ainul Mardhiah berada dalam penantian. Menanti untuk bertemu Mujahid
kecil dan suaminya yang tercinta di syurga nanti. Bukankah tugas seorang yang
bernama Ainul Mardhiah itu sememangnya menanti?"
"SubhanALLAH,
menitis air mata saya kak, semoga penantian Ainul Mardhiah akan terubat dengan
kasih sayang ALLAH"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sepertiga
malam yang hening, di kala sujudnya seorang hamba kepada Maha Kuasa, terdengar
rintihannya..
Ya
ALLAH, diri ini tidak sesempurna bidadari...
Maka
ampunkanlah segala kekhilafan diri ini
Ya
ALLAH, diri ini tidak sesempurna bidadari..
Maka
kasihanilah hamba ini dengan sepenuh kasih sayangMu, hanya padaMU pengharapan
hamba
Ya
ALLAH, diri ini tidak sesempurna bidadari....
Tiada
daya hamba untuk menolak segala ketentuan MU...
Ya
ALLAH, diri ini tidak sesempurna bidadari...
Maka
lindungilah hamba ini dari segala rasa putus asa terhadap rahmatMu
Ya
ALLAH, diri ini tidak sesempurna bidadari....
pertemukanlah
diriku dengan Mu dan dengan izin mu jua, pertemukanlah diri ini bersama suami
dan anakku, setelah penantian yang terlalu berharga ini
Ya
ALLAH, diri ini tidak sesempurna bidadari....
Maka, kembalikan diri ini kepadaMU, hanya ENGKAU
yang Maha Sempurna...
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pada
pagi bulan Ramadhan, kebiasaanya para jururawat Hospital Mesra itu akan
membangunkan para pesakit yang beragama ISLAM untuk bersahur bersama. Jururawat
yang bertugas menghampiri katil Ainul Mardhiah. Dilihatnya Ainul Mardhiah
sedang bersujud, segan rasanya untuk mengganggu ketika itu. Dia memberikan masa
kepada Ainul Mardhiah.
Azan
subuh berkumandang, Ainul Mardhiah masih jua tidak kelihatan. Jururawat yang
bertugas sangat terkejut. Selalunya Ainul Mardhiah sangat menepati waktu solat.
Maka, dia segera bergegas ke kamal Ainul Mardhiah.
Dilihatnya
Ainul Mardhiah masih bersujud, mustahil Ainul Mardhiah bersujud terlalu lama.
Ketika dia menggerakkan Ainul Mardhiah, tiada sebarang respon dan akhirnya
tubuh yang bersujud itu rebah. Jururawat itu terkejut dan dia segera memeriksa
nadi Ainul Mardhiah serta memanggil rakan setugasnya yang lain.
"Innalillahiwainnalillahirajiun,
penantian Ainul Mardhiah sudah berakhir", jururawat tersebut berkata dengan
sedu sedan.
Penantian Ainul Mardhiah sudah
berakhir......
Aku tidak sesempurna bidadari
Subscribe to:
Posts (Atom)
